Rabu, April 30, 2014

Haruskah Hari Buruh Identik Dengan Demonstrasi...?

Hari buruh yang dikenal dengan istilah May Day (Hari libur tahunan)bagi para pekerja industri di beberapa negara, ternyata tidak hanya diperingati negara-negara barat yang ada di Eropa dan Amerika dan lainnhya, namun di Asia termasuk di Indonesia juga ikut meramaikannnya yang secara latah turut mengadakan Demontrasi besar-besaran. Protes terhadap berbagai aturan yang telah ditetapkan oleh permerintah, yang dianggap merugikan kaum pekerja/kaum buruh di tanah Air.

Ironisnya, protes dan masukan yang ditujukan kepada para pemerintah dan kaum konglomerat pemilik kekuasaan, atas lembaga-lembaga usaha yang di tempati mencari sesuap nasi para pekerja yang mengatasnamakan diri sebagai buruh, tidak sedikit yang ditumpangi kepentingan segelintir orang atau kelompok yang bernuangsa polik. Sehingga aspirasi yang dikoarkan sejatinya murni suara rakyat akhirnya menjadi suara kepentingan.

Belum lagi aturan dan undang-undang yang dibuat oleh pemangku kekuasaan yang tidak sedikit berpihak kepada kepentingan kaum kapitalis minoritas pemilik modal yang dengan mudahnya dapat meraup keuntungan material dari berbagai sektor perekonomian di Indonesia. Alih-alih pengentasan kemiskinan yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945 yang tertera pada alinea ke empat "... dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,... Justru yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan, mulai dari miskin harta hingga miskin moral.

Wajarlah jika perdamaian abadi dan keadilan sosial yang diimpikan oleh segenap pendahulu tanah air ini tidak dapat tercipta dengan baik, karena kepentingan demi kepentinganlah yang sering mendasari suatu kebijakan dibuat oleh para penguasa. Salah satu aturan yang dibuat dianggap tidak memihak kepada tenaga kerja adalah UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Diurai dalam Regulasi tersebut, kebutuhan tenaga kerja untuk menjalankan produksi disuplai oleh perusahaan penyalur tenaga kerja (outsourcing). Di satu sisi buruh harus tunduk dengan perusahaan penyalur, di sisi lain harus tunduk juga pada perusahaan tempat ia bekerja. Kesepakatan mengenai upah ditentukan perusahaan penyalur dan buruh tidak bisa menuntut pada perusahaan tempat ia bekerja. Sementara itu, di perusahaan tempat ia bekerja, harus mengikuti ketentuan jam kerja, target produksi, peraturan bekerja, dan lain-lain. Setelah mematuhi proses itu, baru ia bisa mendapat upah dari perusahaan penyalur.

Kembali ke tema mengenai hari buruh yang identik dengan unjuk rasa atau demonstrasi dengan berbagai tuntutan kepada penguasa, hanya akan teratasi jika hak-hak individu dari para pekerja secara ekonomi dapat teratasi oleh sistem yang dibuat oleh pemegang kepentingan yang ada. Sehingga wajarlah manakala anjuran Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Hatta Rajasa untuk menggunakan hari buruh di rumah bersama keluarga tidak dihiraukan oleh para pekerja/buruh di tanah air.

Sebagai manusia yang berkepercayaan kepada Sang Halik, Yang Menggenggam segala jiwa dan kekuatan semua makhluk, Idealnya Hari buruh yang diramaikan dengan aksi unjuk rasa alias demonstrasi besar-besaran, dapat dibijaki dengan melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat, tanpa harus ikut-ikutan dengan bersikap latah melakukan aksi demonstrasi.

Bukan berarti demo yang dilakukan oleh para pekerja buruh di jalan-jalan itu tidak bermanfaat, namun aksi tersebut alangkah bijaknya jika didudukkan bersama dengan berbagai pihak untuk duduk bersama bertukar pikiran dan saling memberi masukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak. Melalui diskusi publik misalnya, dengan menghadirkan pembuat UU, Pemerintah/penguasa, Pihak Pengusaha dan Perwakilan dari Pekerja/buruh. Kemudian dengan legowo mendudukkan persoalan yang dianggap mendzalimi secara sepihak secara akal jernih untuk mencari solusi yang lebih elegan dan lebih menguntungkan bagi kepentingan umum, tentu akan jauh lebih 3memberian kesan mendidik dibandingkan dengan aksi-aksi di jalanan yang senantiasa diperingati setiap 1 Mei di negeri ini. Dan masih banyak lagi cara metode lain yang dapat ditempuh untuk memecahkan persoalan ketenagakerjaan yang selama ini diperjuangkan oleh kaum buruh, yang lebih mulia dan lebih terhormat.

Salam Sukses dan Salam perjuangan tanpa penindasan di Bumi Pertiwi.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, Juli 22, 2009

Pelayanan Bank yang Kurang Menyenangkan

Entah bagaimana cara penulis sampaikan kepada pembaca yang budiman, kejadian yang penulis alami selama dua hari ini. Memang boleh dikatakan hal ini sangat sensitif tentunya karena berhubungan dengan funding. Tetapi berbicara pelayanan, nah ini yang ingin penulis uraikan pada kesempatan ini terkait apa yang penulis alami, dan ini cukup membuat penulis merasa sangat tidak puas dan kecewa atas pelayanan yang diberikan oleh oknum pegawai salah satu Bank yang ada di Kota ini. Sebut saja Bank Pembangunan Daerah yang nota benenya merupakan Bank yang bergerak di bidang pelayanan publik tapi untuk oknum yang telah memberikan pelayanan kepada penulis sepertinya belum menerapkan dengan baik konsep pelayanan publik yang baik. Dan bahkan mungkin saja memang belum difahami, terutama standar pelayanan publik, sesuai dengan Kepmenpan No. 63 tahun 2003 (63/KEP/M.PAN/7/2003).


Dari Kepmenpan tersebut, yang penulis pahami bahwa seorang pelayan publik semetinya memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggannya, mulai dari mimik atau ekspresi muka yang ditampilkan kepada pelanggan atau nasabahnya, tutur kata hingga pada perbuatan yang dilakukan terhadap pelanggannya semestinya memberikan kesan yang positif agar pelanggan merasa puas dan senang atas apa yang telah mereka peroleh, bukan justru sebaliknya, seperti yang penulis alami selama kurang lebih dua hari ini.

Sebenarnya penulis hanya ingin mencairkan dana Anggaran yang dikucurkan kepada Sekolah-sekolah yang mungkin dikenal dengan istilah Dana Pendidikan Grastis, tapi justru yang terjadi dilapangan bukannya dimudahkan dan diarahkan dengan baik, malah seolah-olah Penulis merasa dipersulit karena sikap yang ditunjukkan oleh pegawai tersebut sungguh tidak mencerminkan pemberi pelayanan prima yang baik.

Saat pertama kali penulis menghadap pada Custemer Cervice tersebut, mimiknya memang sudah tidak memberikan mimik yang ramah dan bersahabat, seolah-olah penulis merupakan beban baginya. Padahal bukankah setiap pelanggan yang datang itu semestinya diberi pelayanan dan perhatian yang baik agar memberi pencitraan yang positif dan menyenangkan bagi instansi yang bersangkutan? bukan justru memperlihatkan kondisi yang seolah-olah tidak bersahabat. Atau mungkin saja itu hanya penilaian subjektif dari penulis karena mungkin saja memang tabiat dan kebiasaan oknum tersebut memang seprti itu adanya. Ya.. itu semua belum penulis fahami. Tapi selama dua hari ini setiap penulis berhadapan dengan oknum tersebut penulis belum pernah merasakan suasana yang mencitrakan kondisi yang prima akan pelayanan yang diberikan kepada penulis selaku nasabah alias pelanggan.

Ketika penulis menyodorkan suatu berkas kepadanya, lalu diambilnya berkas itu dan langsung diletakkan didepannya dengan enteng dan dikatakannya "nanti dicarikan... oleh ...." setelah itu suasan saat itu hening karena penulis sudah mulai merasa kesal dan capek digiring sana sini belum ada kejelasan. Lalu penulis menunggu sekitar 10 menit lamanya barulah datang sosok pria yang dimaksudnya untuk mencari berkas yang diinginkan oleh pegawai yang ada di hadapan penulis saat itu. Kemudian diakatakan kepadanya "Pak tolong dicarikan berkasnya ini...!" Penulis juga masih bingung berkas apakah gerangan yang dimaksud.

Mungkin sekitar 30 menit lamanya kesana kemari, pulang-balik, mondar-mandir Bapak yang berseragam rapi tadi berusaha membongkar hampir semua berkas yang ada di Lemari Arsip, dan semua arsip yang tersimpan di sekitar pegawai yang duduk dengan segenap kesibukannya di hadapn penulis kala itu. Sambil penulis menggeleng-gelengkan kepala, lalu penulis berkata lirih pada teman yang ada di samping penulis bahwa "apakah yang mereka cari?" teman disamping saya pun hanya mengangkat kening dan bahunya pertanda kebingungan dan kejenuhannya menunggu begitu lama.

Sekitar sepuluh menit kemudian barulah penulis ketahui bahwa ternyata yang dicari adalah berkas pembukaan rekening baru di bank tersebut, padahal penulis sendiri belum pernah membuat atau menorehkan tinta dilembaran pembukaan rekening yang mereka maksud. Itupun setelah penulis sudah merasa sangat jenuh menunggu begitu lama dan juga sudah merasa kasihan melihat lelaki yang bertubuh kekar dan tinggi yang telah mondar-mandir kesana dan kemari mencari berkas yang diminta oleh wanita yang ada di depan penulis, sehingga penulis mencoba memberanikan diri untuk kemudian melontarkan perkataan kepadanya, " Maaf, kalau boleh tau berkas apakah yang dicari bu'?" Lalu dijawabnya "Berkas ...." penulis juga sudah lupa namanya... yang jelasnya bahwa yang dimaksud itu adalah berkas yang biasanya berisi keterangan nasabah saat membuka rekening baru di Bank.

Setelah itu barulah penulis berusaha untuk melanjutkan perbincangan dengan berusaha untuk tetap menjaga emosi yang dan berusaha untuk bersabar dengan kondisi yang penulis alami saat itu, dengan berkata "Seingat saya, saya belum pernah mengisi blanko dan terlebih lagi menanda tangani blanko seperti yang Ibu maksud." Kemudian CS tersebut berkata dengan mimik yang sinis bahwa "Mana mungkin Bapak memiliki nomor kalau belum pernah membuat surat permohonan?"
"Saya juga nggak tau Bu'...? justru itu saya juga cuma menerima nomor ini dari ..." Jawabku.

Akhirnya, setelah berdiskusi bebearapa saat dan bahkan diapun sempat menelpon rekan kerjanya dan menerima penjelasan darinya hingga raut mukanya pun mulai cerah pertanda bahwa dia mengerti apa yang dijelaskan oleh rekanya kepadanya. Wal hasil penulis memperoleh berkas yang berisi beberapa lembaran kertas darinya dan diminta unuk diisi dan dilengkapi dengan beberapa persyaratan yang dia tuliskan di belakang blanko tersebut.

Entah apa lagi yang akan terjadi besok saat blanko tersebut di kembalikan..... Wallahu 'alam bisshawab.

Semoga pembaca yang budiman tidak mengalami hal serupa yang penulis rasakan selama dua hari ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin penulis tuliskan tapi penulis pikir apa yang telah penulis torehkan di atas sudah cukup.


[+/-] Selengkapnya...

Pengikut

  © Blogger templates Editor template by Editor 2008

Back to TOP