Kamis, September 21, 2017

Memaknai Hijrah dari Sisi Ekonomi Rakyat Jelata

Semoga semangat hijrah mengalir dalam sendi kehidupan ekonomi kita, untuk hijrah secara totalitas dari ekonomi ribawi kepada ekonomi Ketauhidan yang berkeadilan.

Tidak hanya sekedar slogan semata, namun dapat terimplementasi dalam segala aspek kehidupan yang tidak lepas dari unsur ekonomi di dalamnya, dari hal terkecil hingga hal yang lebih besar. Termasuk di dalamnya membiasakan diri dalam memanfaatkan produk-produk dalam negeri, memberdayakan usaha-usaha lokal, dan mendorong ekonimi masyarakat mikro kecil yang hidup di akar rumput.

Membeli produk atau dagangan mereka merupakan salah satu wujud usaha kita dalam membantu menumbuhkembangkan ekonomi rakyat yang sangat sejalan dengan ekonomi yang berkeadilan. Sekaligus sebagai wujud pemerataan distribusi pendapatan bagi masyarakat, yang hingga saat ini menjadi akar kemelut perekonomian nasional dan global. 

Hampir di semua daerah perekonomian masyarakat dikuasai oleh segelintir orang yang diistilahkan sebagai golongan Borjuis. Terkadang mereka pulalah yang menjadi pengendali (decision maker) dalam pemerintahan. Tidak jarang pemerintahan tingkat daerah hingga pusat sangat bergantung pada titah mereka.

Pada akhirnya masyarakat kecil menjadi pelaku penderita dalam kehidupannya sehari-hari. Hasilnya dinikmati oleh mereka para cukong-cukong yang tidak peduli akan kelangsungan hidup masyarakat banyak, demi kepentingan mereka.

Hal tersebut sesungguhnya yang pernah dicontohkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Setelah hijrah dari Mekah ke Madinah. Abdurrahman bin 'Auf, merupakan sosok yang patut diteladani dalam membela dan menumbuhkembangkan ekonomi umat Islam di Madinah.

Ketika beliau ditawari separuh harta kekayaan dari sahabat Anshar, Sa'ad bin Rabi', beliau menolak dan hanya meminta untuk ditunjukkan pasar. Setalah dutunjukkan pasar kepadanya oleh Sa'ad bin Rabi', Abdurrahman bin 'Auf pun meminta lahan Sa'ad bin Rabi' yang ada di sekitar pasar milik orang Yahudi, untuk dikelola dengan sistem kerja sama bagi hasil. Wal hasil selang beberapa waktu berjalan, para pedagang yang berjualan di Pasar orang Yahudi berslih ke lokasi pasar yang dikelola oleh Abdurrahman bin 'Auf, yang menerapkan sistem bagi hasil kepada para pedagang. Beda halnya dengan yang dilakukan oleh pemilik pasar sebelumnya yang memberlakukan biaya sewa dan pajak atas tempat yang digunakan jualan oleh para pedagang.

Jelas mereka lebih memilih sistem bagi hasil yang diberlakukan oleh Abdurrahman bin 'Auf, yang hanya mengambil bagi hasil sekitar 3-5% dari hasil keuntungan pedagang yang berjualan di lokasinya.

Ini salah satu konsep yang jelas lebih memihak kepada rakyat jelata terutama para pelaku usaha mikro kecil yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1439H

 #TahunBaruHijriyah #1439H #HidupEkonomiRabbani #EkonomiBerkeadilan

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Agustus 26, 2017

Sepenggal Kisah Perjalanan POSKI: Pejuangan dan Harapan

Semilir angin subuh melambaikan tangannnya membangunkan kafilah STAI Al-Azhar Gowa Sebelum adzan subuh dikumandangkan, suara murattal pun terdengar sayup-sayup dari kubah masjid yang sekira 300 meter dari Penginapan tempat melepas penat setelah melakukan perjalanan dari Makassar semalam, dari bakda magrib tiba di bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu pukul 23.40 waktu setempat, tanggal 22 Agustus 2017. 

Jarak dari Bandara ke tempat penginapan sekitar 15-20 menit perjalanan. Namun tiba di penginapan sekitar pukul 00.30 dini hari, karena cukup lama menunggu bagasi di bandara. S

Sebelumke lokasi pembukaan yang di jadwalkan panitia pukul 08.00, terlebih dahulu menyempatkan diri berpose di depan penginapan sebagai dokumentasi awal, sembari menunggu mobil jemputan yang telah disiapkan panitia.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mobil bus polisi yang dinati pun tiba di depan jalan menuju penginapan tepatnya Jl. Cut Nyak Dien, pada pukul 08.30 meski diagendakan penjemputan dilakukan panitia pukul 06.00, namun karena jarak antara penginapan peserta yang cukup pariatif benyebar di beberapa tempat di Kota Palu, dan keterbatasan kendaraan jemputan yang hanya berkisar 8 unit mobil operasional membuatnya cukup kewalahan. P



Pembukaandigelar di lapangan Kantor Walikota Palu, disemarakkan dengan berbagai ragam corak warna pakaian masing kontingen dilenglapi dengan pakaian adat daerahnya masing-masing, terdiri dari kurang lebih 29 perguruan tinggi termasuk tuan rumah, UNISMUH Palu. 

Waktu menunjukkan pukul 09.45, rombongan Diktis beserta tim dari Kopertais VIII Sulampua, memasuki lapangan, disambut dengan tari-tarian, saat rombongan Kementrian agama yang diwakili oleh Dirjen Diktis tiba di lokasi kegiatan, yakni tari Peaju dan tari Peulu Cinde. Keduanya adalah tari penyambutan tamu. Tari Peaju dibawakan oleh beberapa orang laki-laki yang bersenjatakan tombak, guma dan kaliavo dengan diiringi musik gendang yang dinamis mengawal para tamu kehormatan memasuki arena kegiatan. 

Tari Peulu Cinde, dibawakan oleh 3 (tiga) orang gadis Kaili yang menyambut tamu penting yang biasanya dilakukan dengan mengulurkan Cinde yaitu perangkat adat berupa kain putih yang digulung dengan kain panjang dan diberi hiasan gelang panjang. Cinde diulurkan pada tamu kehormatan lalu dibimbing menuju tempat duduknya sambil dihamburkan beras kuning di atas kepalanya, bertanda tamu tersebut disambut dan dihargai keberadaannya. Tarian ini diiringi musik kakula yaitu seperangkat alat musik tradisional Suku Kaili yang mendiami daerah ini. 



Prosesi pembukaan pun berjalan dengan baik, dan penuh hikmat, dengan senyum mentari pagi yang kian lama kian menyengat hingga di ubun-ubun. Pembukaan oleh Master Ceremony diawali tilawah oleh dua orang Qariah yang konon merupakan Qariah Internasional pada masanya, salah seorang diantaranya yakni juara Internasional di Kuala lumpur pada tahun 1990an. Ayat dilantunkan secara gantian dan sesekali bersamaan dengan lantunan suara yang sangat merdu dan indah didengar, membuat hati terasa beegetar dan semakin teduh mendengarnya.

Kemudian dilanjutkan degan beberapa sambutan, diawali Rektor UNISMUH kota Palu, Dr. Heru Wardoyo, kemudian Sambutan Gubernur Sulawesi Tengah yang wakilkan kepada Asistennya. Disusul Sambutan Koordinator Kopertais Wilayah VIII, Bapak Prof. Dr. Musafir Pababari,  M.Si. Kemudian  diakhiri oleh Menteri Agama RI, dalam hal ini diwakili oleh Bapak
Prof. Dr. Phil H. Kamaruddin Amin, M.A. Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama R.I. sekaligus membuka secara resmi kegiatan Pekan Olahraga Seni dan Karya Ilmiah (POSKI 1) PTKIS Wilayah Indonesia Timur.

Pembukaan secara resmi ditandai dengan pemukulan Gong oleh Bapak Kamaruddin, didampingi Pihak Kopertais, Rektor UNISMUH Palu dan beberapa Pejabat setempat, dilanjutkan prosesi pengguntingan tali dan peleoasan balon serta penyerahan piala bergilir kepada ketua Panitia.



Di Penghujung acara dilakukan pawai dari semua perguruan tinggi Islam swasta (PTKIS) yang menjadi peserta POSKI 1. diiringi dengan pembacaan profil masing-masing Kafilah, dan penampilan-penampilan dari pihak penyelengara, hingga jam 11.50. Waktu setempat. Setelah itu masing-masing kontingen kembali diantar ke tempat penginapannya oleh pihak panitia, menggunakan kendaraan yang telah disiapkan, termasuk Tim dari Al-Azhar.



Hari kedua

Di pagi yang cerah, di tengah keheningan kota Palu, kafilah Azhar meninggalkan Penginapan Hasanah yang terletak di Jl. Cut Nyak Dien. Waktu setempat menunjukkan pukul 7.40. 

Deperjalanan kendaraan roda dua dan roda empat sudah mulai lalu lalang. Tepat pukul 08.00 mobil yang dikendai tiba di gerbang Fakultas Hukum UNISMUH Palu di Jalan Jabal Nur yang beririsan dengan Jalan Hang Tuah,  tempat Perhelatan POSKI 1 dilaksanakan. 

Lomba Tahfidz 5 juz dimulai sekitar pukul 08.45 di Aula Fak. Hukum, meski sdh diagendakan jam 08.00 namun ternyata tim Hakim juri datang sekitar jam 08.15, dan peserta lainnya datang di atas jam 08.15.



Setelah lomba dibuka oleh seorang MC yang berdiri di belakang Dewan Hakim. Terdapat empat dewan hakim, terdiri dari seorang hakim penanya, hakim tahfidz, hakim tajwid, dan fashahah. Satu demi satu peserta dipanggil maju ke panggung yang telah di siapkan oleh panitia, namun sebelumnya mereka mengambil maqra pada hakim penanya.

Sebagian tampil dengan terbata-bata, akibat grogi yang akhirnya membuat mereka lupa dengan hafalan yang ditanyakan oleh dewan Hakim penanya, sebagian juga sangat lancar dan disertai dengan lantunan ayat yang indah dan merdu dengan irama yang mendayu-dayu. Salah seorang peserta bahkan menggunakan empat langgam, setiap pertanyaan dijawab dengan lenggam yang berbeda. Mulai langgam sika, nahawan, bayyati dan Rast. Belakangan diketahui bahwan peserta tersebut hafidz 30 juz dan sudah terbiasa tampil diiven nasional.

Utusan Al-Azhar memperoleh urutan pertama tampil. Termasuk yang tampil dengan penuh hati-hati dengan aurah sedikit gugup dan grogi yang menyelimutinya. Beberapa pertanyaan dari dewan hakim penanya terpaksa harus mendapatkan bantuan dari dewan hakim untuk melanjutkan ayat-ayat yang dilafalkan. Suara merdunya dan kelancaran hafalannya seolah bersembunyi dan nampak malu menampakkan dirinya. Meski tetap saja ia semangat dan berusaha melantunkan ayat demi ayat dengan lantunan Sikanya yang khas.


Dapat dimaklumi, pengalaman pertama tampil di hadapan peserta yang berasal dari kampus PTKIS yang ada di Indonesia Timur, merupakan faktor utama yang membuatnya kelihatan ragu-ragu dalam menyambung ayat demi ayat yang ditanyakan oleh hakim penanya.

Di saat yang bersamaan sekitar 30 meter di sebelah barat lokasi tahfidz, lomba kaligrafi juga sedang berlangsung di Gedung aula FKIP. Di tempat ini berlangsung dua jenis lomba, kaligrafi naskah dan dekorasi. Kafilah Al-Azhar mengikuti masing-masing jenis lomba tersebut, yang diikuti oleh 11 kampus PTKIS se-Indonesia Timur.



Walau dengan penuh keterbatasan, mereka tetap berusaha dengan sungguh-sungguh, penuh optimisme dan semangat yang pantang menyerah. Lomba kaligrafi ini butuh ketelitian, kepiawaian dan stamina yang baik karena membutuhkan waktu lomba yang cukup lama. 




Lomba kaligrafi naskah berlangsung 7 jam sesuai kesepakatan dewan juri, dan kaligrafi dekorasi 8 jam. Waktu istirahat diberikan hanya 30 menit untuk shalat dan makan siang. Adapun untuk makanan dan minuman ringan, diperbolehkan kepada peserta di sela-sela proses lomba berlangsung.



Kelemahan dari utusan Azhar cukup pariatif, pada naskah kesulitan dalam membuat mal pola, sementara aturan dewan juri tidak membolehkan membawa mal pola. Sedangkan dekorasi lemah dari sisi penyusunan maqra. Kedua hal tersebut dalam kaligrafi merupakan hal yang sangat penting dan sekaligus memiliki kerumitan tersendiri. 

Pertandingan bulutangkis tidak kalah hebohnya di seberang Fakultas sana, tepatnya di samping gedung kantor Fak. Pendidikan Agama Islam (PAI), terdapat gedung yang luasnya sekitar 25 x 35 Meter. Di dalamnya terdapat dua lapangan bulu tangkis dan satu lapangan tennis meja. 

Pemain andalan tunggal putra dari al-Azhar yang turut berlaga dijadwalkan bermain sekitar pukul 10.00 namun baru di mulai pada jam 11.30. berhunung lawan dari STAI DDI Sidrap yang sebelumnya sesuai hasil teknikal meeting berhalangan hadir karena mengikuti cabang lomba lain, meski sempat diprotes karena tidak menggugurkannya dan menjadikan tim Azhar menang beediri, namun malah akhirnya digantikan oleh Tim dari STAI DDI Maros. 




Sorak ria suara supporter terdengar keras dan gemuruh, memberi support kepada tim andalannya masing-masing di depan gedung lapangan bulutangkis, yang sedang berlansung laga bola volly putri, sepak takraw, volly putra, dan footsal. Lapangannya berderetan bak sawah di pegunungan yang indah berjenjang.

Hasilnya cukup memuaskan, yakni menang dengan skor 21:13 & 21:14. Tim yuri pun mengumumkan bahwa pertandingan babak berikutnya akan dimulai pada pukul 14.00 berhadapan dengan STAI DDI Soppeng, yang juga pemenang dari grup sebelah. Berakhir dengan kemenangan di pihak Azhar dengan Skor 21:14 dan 21:16. Selanjutnya akan maju ke babak per empat final berhadapan dengan tim dari STAI Al-Khairat Halmahera Selatan pada keesokan harinya.

Hari ketiga

Hari kedua tahfidz 10 Juz di mulai tepat jam 08.35. walau kesepakatan awal tetap diagendakan dimulai jam 08.00, namun dewan hakim berdatangan di jam yang berbeda, ada yang datang jam 08.15. selanjutnya jam 08.20. dan disusul hakim Fashahah  sekitar 03 menit setelahnya. 

Kafilah Azhar tiba di lokasi lomba sekitar pukul 08.02. Kafilah Al-furqan Makassar terlebih dahulu sudah ada di depan Fak. Hukum menunggu. Namun panitia yg hadir baru 1 orang untuk membuka ruangan. Selanjutnya sekitar jam 08.05 kafilah lain baru mulai berdatangan, diawali kafilah dari Universitas Al-Khairat (UNISA) Palu. Lalu disusul kafilah-kafilah yang lain.

Tampil peserta secara teratur mulai urut pertama hingga urut 17, Al-Azhar berada di urutan ke-14. Lomba Tahfidz 10 Juz ini diikuti 17 orang peserta, yang terdiri dari peserta pemula hingga juara Nasional, ada yang sudah pernah mengantongi juara 2 Nasional, dan ada juga juara Kabupaten dan Propinsi di daerahnya masing-masing. utusan Azhar termasuk yang pemula dan paling muda di antara peserta yang ada. 


Kesempatan ini merupakan kali pertama tampil di kancah semi Nasional bagi hafidzah dari al-Azhar. Namun tidak mengurangi semangatnya tuk tampil dengan baik. Meski tetap saja gerogi menghampirinya sehingga pertanyaan pertama hingga ketiga masih saja membutuhkan bantuan dari Dewan Hakim, tetapi pada pertanyaan terakhir berhasil dijawabnya dengan lantunan ayat demi ayat yang mengalir dengan lancar dan merdu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa para hafidzh yang menjadi peserta rekanan lombanya memiliki kelancaran hafalan dan kemerduan suara yang menggetarkan, bahkan tidak sedikit diantaranya meneteskan air mata dewan hakim yang secara diam-diam terkesima dengan lantunan ayat yang dibacakan oleh para hafidzh dari beberapa kampus PTKIS ternama. Termasuk penulis sempat larut dan tak tersadari buliran air mata menetes saat mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang ancaman Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang dzalim. 

Tepat pada pukul 12.00 lomba Tahfidz berakhir dan selanjutnya diiringi sesi pengambilan gambar, termasuk Al-Azhar tidak menyia-nyiakan kesempatan tuk mendokumentasikan momen berharga tersebut bersama dewan hakim.



Di lapangan bulutangkis tim Azhar bermain dengan sengit melawan STAI Al-Khairat Halmahera Selatan pada pukul 10.30. dan berakhir dengan kekalahan setelah mengalami longset, membuat atlit Azhar kewalahan dan kehabisan tenaga. Babak perempat final ini ditutup tepat pada pukul 11.30. sekaligus mengantarkan ke babak Semifinal memperebutkan perunggu berhadapan dengan UNISA Palu pada pukul 14.30. 

Babak semifinal pun berlangsung dengan seru walau hanya dengan sisa tenaga dari babak sebelumnya, utusan kampus Wasathan tersebut tetap berusaha tampil memaksimalkan kemampuannya. Namun akhirnya juga mengalami kekalahan.



Kekalahan tersebut baginya bukanlah akhir dari segalanya, namun baru babak awal dari perjalanan karirnya menuju kesuksesan yang hakiki di masa mendatang.

Penutupan dijadwalkan pada hari kelima, Sabtu malam, namun rombongan dari STAI Al-Azhar kembali lebih awal dari rencana, tepatnya pada hari keempat.

Sekitar pukul 05.35 kafilah bergegas menuju bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu. Jadwal penerbangan pukul 07.10, dan cek-in pukul 06.10. Dalam proses cekin, ternyata tidak semulus yang diharapkan. Salah seorang dari peserta dari Rombongan ternyata tidak memiliki kartu identitas sama sekali, yang tidak disdari oleh Pimpinan Kontingen, karena yang bersangkutan bisa melakukan perjalanan penerbangan dari Makassar ke Kota Palu tanpa hambatan. 

Kondisi tersebut cukup memcengankan, membuat pimpinan kontingen sempat merasa kewalahan saat dimintai identitas dari semua calon penumpang yang tertera namanya dalam etiket yang diperliatkan kepada pihak penerbangan. Namun setelah melalui proses lobi yang cukup lama Alhamdulillah akhirnya pihak penerbangan membolehkannya untuk melakukan boarding. 

Ternyata masalah tidak berakhir sampai di situ, saat berjalan hendak menuju ruang tunggu, pemeriksaan pun kembali dilakukan oleh petugas Bandara, satu persatu peserta kontingen, kembali diperiksa identitasnya, dan tibalah giliran peserta yang tidak memiliki identitas diperiksa. 

Dengan perasaan was-was, yang bersangkutan hanya kelitan pasrah saat petugas bandara tidak meloloskannya, akan tetapi lagi-lagi pimkon melakukan loby dan berusaha meyakinkan seorang petugas perempuan yang berdiri di samping pintu masuk dengan dalil bahwa yang bersangkutan belum cukup umur untuk mengurus ktp. Akhirnya bisa diloloskan juga. 

Selang beberapa saat di tempat yang tidak terlampau jauh sekitar 10 meter, perlengkapan salah seorang peserta lomba kaligrafi pun disita petugas bandara, yang terdiri dari beberapa cat warna. Hal tersebut sesuai dengan peraturan penerbangan ungkap petugas bandara yang menahan bahan gambar tersebut. Perasaan tak tega campur sedih, semua bahan tersebut kecuali dua buah kuas kecil harus direlakan diamankan petugas, apalagi sisa 25 menit pesawat akan tinggal landas dari bandara Tanah Kaeli menuju Bandara Internasional kota Daeng.

Perjalanan pesawat tepat satu jam dari pukul 07.10 hingga pukul 08.10 Alhamdulillah mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Selamat datang kembali di Kota Anging Mammiri.

Tetaplah semangat menatap masa depan gemilang, karena dengan harapanlah manusia dapat bertahan dan dengan cita-citalah manusia berkarya, serta dengan RidhaNyalah manusia menjadi mulia.

Ditulis Dari Ruang Harapan di tengah kampus UNISMUH Palu.







[+/-] Selengkapnya...

Pengikut

  © Blogger templates Editor template by Editor 2008

Back to TOP